sepatah kata: 'aku dan orang tua'

Kehidupan ini begitu sempurna, Allah telah membuatnya begitu indah. Dia memberikan kita keluarga yang sangat mencintai dan menyayagi kita.

Sejatinya, orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Pengalaman pahit yang pernah dialami jangan sampai anaknya pun ikut mengalaminya. Itulah mengapa mereka menuntut macam-macam yang terkadang diluar kemampuan atau keinginan kita. “Orang tua terlalu egois”, begitulah. Apa yang kita lakukan dan yang ingin kita lakukan selalu salah. Kadang timbul satu kata “perfeksionis”. Dan kita sesegera mungkin menjauhkan pernyataan tersebut. Ingat sabda Rasul : Keridloan Allah terletak pada keridloan orang tua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan orang tua. Tidak ada suatu kebahagiaan dengan membelakangi Allah dan Rasul-Nya.

Yang perlu digarisbawahi adalah, jika tidak ingin terjadi perselisihan. Bicarakan, diskusikan, luruskan. Agar antara kemauan orang tua dan kita seimbang.

Harapan mereka cuma satu. Masa depan kita.

Allah begitu bermurah hati. Mengirimkan dua malaikatnya kepada kita. Di tengah kehidupan yang begitu mengerikan seperti ini. Malaikat yang begitu menyayangi kita, mencintai, dan selalu ada ketika kita butuhkan. Mereka yang bekerja siang malam, tanpa lelah dan tanpa pamrih. Demi kesejahteraan kita, buah hati tercinta.

Rumahku surgaku. Alangkah sempurna, jika kita menciptakan rumah seperti surga, dimana di dalamnya kita merasakan ketenangan. Keharmonisan, kerukunan, kasih sayang, lantunan ayat suci Al-Qur’an, kebersamaan, saling berbagi. Ini membutuhkan kerja sama yang kuat antara elemen keluarga. Orang tua dan anak.

Kita adalah harapan orang tua. Dan pernahkan terbesit untuk mewujudkan harapan mereka?

Dan sekarang kesempatan itu masih ada, di depan mata. Kita memakai ‘perlengkapan wisuda’ dengan tepat waktu dan hasil yang memuaskan adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi orang tua. Dan melanjutkan kehidupan kita, mengabdi kepada masyarakat. Dengan semua ilmu yang kita punya.

Ketika kita beranjak dewasa, apa yang ada di pikiran orang tua kita. Adalah perasaan takut. Takut kehilangan, takut kasih sayang kita akan tebagi, takut akan bekal yang diberi kurang cukup untuk kehidupan kita. Begitu sayang mereka kepada kita. Tapi mereka sadar, anak adalah titipan Allah, yang sewaktu-waktu bisa terlepas. Allah yang akan menjaga dan melindunginya.

Kehidupan harus tetap berjalan, selama orang tua kita masih berada di kehidupan yang sama. Berbaktilah. Berikan sedikit waktu untuk mereka, jika kita sibuk untuk sekedar menanyakan kabar atau apa pun. Jenguklah mereka. Peluklah mereka. Buatlah mereka bangga atas semua prestasi kita.
Sertakan orang tua dalam setiap keputusan kita.

Salam sayang, cinta dan rindu teruntuk orang tuaku :*

Komentar